Arsip untuk kategori ‘Ada Apa Dibalik Musibah?’
Mau Ziarah ke Makam Wali Malah Dijemput Maut
Bus Medali Emas yang terlibat kecelakaan di jalur pantura tepatnya di Desa Socorejo, Jenu, Tuban dengan truk muat semen ini, seyogyanya akan berziarah ke Sunan Kudus, setelah berziarah dari Makam Sunan Bonang.
“Kita rencananya dari makam Sunan Bonang menuju ke Sunan Kudus, di Kudus-Jawa Tengah. Tapi tiba-tiba bus yang kita naiki tabrakan dengan truk gandeng,” kata salah satu peserta ziarah Wali Songo, Ridwan (43) warga Probolinggo-Paiton di kamar jenazah RSUD Dr Koesma Tuban, Minggu (1/11).
Ridwan menambahkan, rombongan bus itu dari Paiton dan melakukan ziarah Wali Songo sejak Sabtu (31/10) pukul 21.00 WIB. Dalam ziarah itu bus yang berisi 50 orang.
“Bus yang kita tumpangi mau mendahului kendaraan di depannya. Tapi membuang jalur kanan dari arah berlawanan tiba-tiba muncul truk gandeng bermuatan semen dan tabrakan,” tambahnya.
Akibatnya muatan semen sebagian tumpah berserakan di dalam bus yang dikemudikan oleh Karnadi (33) asal Malang. Dan korban tewas di lokasi sebanyak 8 orang dan yang mengalami luka parah sebanyak 4 orang termasuk sopir bus. (dtc)
Sumber: banjarmasinpost.co.id
Gempa Sumbar – Tinggalkan Jimat Kalian dan Minta Kepada Allah
Suara lantang Ust. Asrofi menggema di tengah-tengah para ibu sebelum kegiatan penyaluran bantuan sembako dan susu bayi di Sicincin Pariaman pada Kamis, 15 Oktober 2009. Nasehat untuk meninggalkan jimat-jimat dan ajakan untuk beribadah kepada Allah sengaja dijadikan tema ceramah agama sebelum pembagian barang bantuan. Hal ini mengingat sebagian besar masyarakat di pedesaan Pariaman melakukan amalan kemusyrikan seperti menggantungkan jimat, mendatangi dukun dan bernadzar di makam-makam tokoh masyarakat.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa amalan kemusyrikan dapat mendatangkan adzab kepada suatu kaum. Oleh karenanya masyarakat dihimbau untuk meningkatkan semangat belajar ilmu agama.
Pada kegiatan ini, Tim al-Sofwa memberikan bantuan 288 kotak susu bayi/balita kepada para ibu yang memiliki bayi dan balita. Pemberian susu ini dikarenakan masih banyak bayi dan balita yang tidak mendapatkan asupan makanan bergizi yang baik pasca gempa. (sd)
Sumber: alsofwah.or.id
Jalur Padang-Pariaman: Amalan Syirik Dibalik Motto “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”
”Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah (ABS, SBK)”, inilah motto yang akan anda temui ketika anda berkunjung ke nagari Minang. Menyebut kota Padang, Pariaman dan kota lainnya di Sumatera Barat akan segera tergambar di dalam benak tentang masyarakatnya yang islami. ABS SBK merupakan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang taat menjalankan syari’at-syari’at Allah Ta’ala, masyarakat yang benar-benar menerapkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan mereka, baik sebagai individu maupun masyarakat.
Namun demikian, Allah Ta’ala takdirkan negeri ini menjadi sasaran gempa yang begitu dahsyat dan telah menelan banyak korban jiwa. Apakah motto itu sesuai dengan kenyataan di masyarakat? Bukankah sebuah negeri yang menjalankan syari’at Allah Ta’ala secara benar akan menjadi negeri yang ”Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur” , negeri yang penuh dengan keberkahan dan rahmat Allah? Lalu ada apa dengan nagari Minang?
Kabupaten Pariaman adalah daerah yang terparah tingkat kerusakannya akibat gempa. Oleh karena itulah Yayasan al-Sofwa memusatkan penyaluran bantuan di sana. Ketika Tim al-Sofwa akan memasuki Kota Pariaman, terpampang rambu lalu lintas penunjuk jalan ke arah makam Syaikh Burhanuddin di Ulakan, yang rupanya menjadi ikon wisata religi.
Ternyata tempat-tempat seperti ini jumlahnya sangat banyak di Pariaman, mulai dari makam tokoh-tokoh besar hingga makam tokoh-tokoh setingkat kampung atau nagari. Yang memilukan adalah hampir semua tempat tersebut dijadikan sarana untuk tempat bernadzar, menyembelih, meminta, bertabarruk dan berdoa kepada selain Allah Ta’ala. Bahkan tak tanggung-tanggung lagi, acara ziarah seperti itu dipimpin oleh ulama atau bahkan doktor lulusan perguruan tinggi Islam.
Apa yang terjadi di Pariaman ini sungguh bertolak belakang dengan apa yang kita bayangkan sebelumnya tentang negeri yang bersandar pada syari’at. Bahkan bila kita lebih dalam lagi menengok kehidupan keseharian masyarakat di Pariaman benar-benar sangat memilukan. Hampir setiap rumah makan yang kita temui, mereka menggantungkan jimat-jimat baik berupa bungkusan, rajah, ataupun foto copy salinan tujuh surat Al-Qur’an dilengkapi gambar seorang syaikh atau wali karamat yang semasa hidup dikatakan memiliki kesaktian, seperti Syaikh Shalaih Kiramatullah. Kesemua itu dianggap sebagai bentuk sarana untuk penglaris dagangan.
Selain itu masih ada lagi adat kebiasaan masyarakat di sepanjang Padang hingga Pariaman, yaitu kebiasaan mendatangi dukun ketika sakit di mana sang dukun atau biasa dipanggil sebagai Tuanku akan menyembelih seekor ayam dan membedah ayam tersebut untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien. Kewibawaan dukun ini di kalangan masyarakat pedesaan bahkan bisa melebihi seorang tokoh agama. Seorang da’i yang dianggap bertentangan dengan ”Tuanku” ini bisa diusir dari masyarakat dari tempat tinggalnya.
Belum cukup dengan tiga perbuatan kesyirikan di atas, di jalur Padang – Pariaman juga ada keyakinan seorang anak kecil akan selamat dari bala jika memakai kalung jimat berisi rajah dari seorang ”Tuanku”. Beberapa anak yang ditemui Tim al-Sofwa juga memakai kalung-kalung serupa itu.
Sungguh sangat ironis, ternyata masyarakat Pariaman menjadi salah satu dari sekian banyak masyarakat indonesia yang kehidupannya sarat dengan kesyirikan, bid’ah dan khurafat serta berbagai bentuk pelanggaran syari’at lainnya. Kesemua itu benar-benar tersembunyi di balik kata-kata ” Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.”
Realitas ini akan kita dapatkan dan kita lihat sendiri ketika datang ke tempat ini. Mungkinkah hal-hal tersebut sebagai faktor terbesar yang memicu kemurkaan Allah Ta’ala sehingga bencana datang memporak-porandakan nagari ini? Wallahu a’lam. (an/sd)
Sumber: alsofwah.or.id
MUI: Kapitalisme Dalam Musibah Undang Bencana Lain
Medan (ANTARA News) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut mengimbau agar pihak mana pun tidak menerapkan asas kapitalisme dalam musibah gempa di Sumbar karena dapat mengundang datangnya bencana yang lain.
“Itu sama saja dengan menyakiti dan menzolimi saudara kita yang sedang dalam kesusahan,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, Dr H. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA di Medan, Sabtu.
Pernyataan itu disampaikan Ramlan Yusuf Rangkuti ketika dimintai fatwanya tentang adanya perusahaan, termasuk maskapai yang mengambil keuntungan dari musibah gempa yang melanda Sumbar dengan menjual tiket pesawat kepada keluarga korban melebihi tarif batas atas.
Memang, kata Ramlan Yusuf, dalam teori ekonomi, apalagi kapitalisme selalu mengajatrkan untuk mencari keuntungan dalam setiap kesempatan.
Termasuk teori yang menyebutkan semakin tingginya permintaan terhadap suatu barang makan semakin tinggi pula harga yang ditentukan.
Namun, kata dia, sebagai bangsa yang beragama, sudah sewajarnya warga negara Indonesia manusia saling membantu dalam kesulitan.
Paling tidak, tambahnya, tidak melakukan perbuatan yang dapat menambah kesusaha dan kesulitan terhadap orang-orang yang sedang mengalami kesusahan itu.
“Jika itu dilakukan, haram hukumnya,” kata Dosen di IAIN Sumut, USU dan UISU tersebut.
Ia mengimbau, perusahaan yang menerapkan kebijakan untuk mengambil keuntungan dari peristiwa gempa di Sumbar itu menghentikan perbuatannya.
Dalam pandangan agama, perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai tindakan yang menzolimi dan menyakiti manusia yang sedang beredih dan dalam kesusahan.
“Perlu disadari, hal itu dapat mengundang bencana lain bagi bangsa Indonesia,” katanya.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter mengguncang Padang, Sumbar, Rabu (30/9) pukul 17:16 WIB yang terjadi pada episentrum 0,84 lintang selatan (LS) dan 99,65 bujur timur (BT), dengan kedalaman 71 km.
Gempa tersebut berada di dasar laut 57 km barat Daya Pariaman, Provinsi Sumbar.
Pada pukul 17:38 WIB terjadi lagi gempa susulan dengan kekuatan 6,2 SR pada episentrum 0,72 LS dan 99,94 BT dan pusat gempa berada di 22 km barat daya Pariaman Provinsi Sumbar dengan kedalaman 110 km.
Selain menghancurkan ratusan bangunan milik pemerintah, warga dan pusat perbelanjaan, gempa itu juga menewaskan ratusan warga Sumbar.(*)
Sumber: antara.co.id















