Arsip untuk kategori ‘Jama'ah Tariqat Naqsabandiyah’
Naqsabandiyah Rayakan Idul Adha 26 November
Kendati pemerintah telah memutuskan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Jumat 27 November, namun Tarekat Naqsabandiyah di Padang, Sumatera Barat, memilih tidak mengikutinya.
Mereka bakal merayakan Idhul Adha pada Kamis, 26 November mendatang. Hal itu diungkapkan guru aliran Tarekat Naqsabandiyah Mursyid Syafri Malin Mudo di Mushala Baitul Makmur, Kecamatan Pauh, Padang. (21/11/2009).
“Jatuhnya 10 Dzulhijjah pada tanggal 26 November tersebut berdasarkan perhitungan almanak tahunan sesuai metode hisab munjid yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat akan merayakan hari raya Idul Adha pada Kamis, 26 November mendatang,” katanya.
Hal ini berarti Tarekat Naqsabandiyah bakal merayakan Idul Adha sehari lebih awal ketimbang pemerintah. Ini menurut Mursyid karena penetapan tanggal tidak berdasarkan rukyatul hilal melainkan berdasarkan kalender hidab munjid.
“Berdasarkan perhitungan kita menurut kalender Hidab Munjid yang juga berpedoman kepada kalender Muhammadiyah, 10 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 26 November,” tegasnya.
Menurut Mursyid, dalam kalender Muhammadiyah awal Dzulhijjah 1430 Hijriyah jatuh pada 17 November pukul 02.15 WIB di mana matahari terbenam pada pukul 18.08 WIB. Hilal sudah berada di atas ufuk Mar’i setinggi 5 dejarat 55 menit, 33 detik.
“Hal itu sama dengan memulainya ibadah puasa saat Ramadan. Di dalam hadits disebutkan jika telah tampak bulan, maka kita wajib berpuasa, sehingga kita menetapkan awal puasa bukan pada awal tanggal nampaknya bulan itu, melainkan satu hari sebelumnya, begitu juga dengan penetapan Idul Adha,” terang dia.
Mursyid mengklaim bahwa jumlah jamaah Naqsabandiyah di Sumatera Barat mencapai 20 ribu orang yang tersebar di beberapa kota dan kabupaten. Seperti di Kota Padang, Kabupaten Solok, Kabupaten Pasaman, Pesisir Selatan, Payakumbuh, dan Kota Bukittinggi. (ful)
Sumber: okezone.com
Pemilik Padepokan Zikir Naqsabandiyah Menzinahi Anak Tirinya dengan Dalih Transfer Ilmu
Padepokan zikir Naqsabandiyah milik Sahrudin sudah dibakar warga Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kab. Pandeglang. Warga resah dengan aktivitas padepokan yang dinilai menyimpang. Lantas apa saja aktifitas sesat yang diajarkan padepokan tersebut?
Menurut penuturan warga setempat, Riyat (23), Sahrudin sering melakukan ritual yang tidak lazim diajarkan dalam agama Islam. Misalnya, Sahrudin melakukan pernikahan ghaib tanpa wali dan penghulu.
“Tak hanya itu saja Sahrudin sering menyetubuhi anak tirinya Wanti (20), dengan dalih mentransfer ilmu agama lewat udara dengan cara nikah gaib,” papar Riyat ketika ditemui okezone, Kamis 10 September petang.
Pernikahan gaib itu juga diprotes “istri” Sahrudin, Ririn. Menurut pengakuan Kepala Desa Sekong, Wawan Gunawan, Ririn merasa dilecehkan oleh suaminya karena hubungan suami istri yang telah 5 tahun dijalaninya sampai saat ini hanya dilakukan dengan nikah ghaib, tanpa nikah di depan penghulu.
“Istri Sahrudin pun mengatakan kepada saya bahwa anaknya Wanti dari suaminya yang pertama (anak tiri Sahrudin) juga dinikahi secara ghaib,” papar Wawan.
Selain ajaran aneh tersebut, aktivitas padepokan Sahrudin juga dianggap mengganggu ketrentaman warga sekitar. Setiap kali melakukan ritual, jamaah zikir selalu berzikir dengan suara keras yang terdengar hingga di sekitar desa.
Menurut penuturan warga sekitar, para pengikut Sahrudin mayoritas berasal dari Jakarta. Bahkan, Sahrudin juga bukan warga asli desa setempat. Dia pendatang yang baru tinggal sekira empat tahun di Desa Sekong.(ahm)
Sumber: okezone.com
Padepokan Zikir Naqsabandiyah Dibakar Massa
Padepokan zikir Qodoriyah-Naqsabandiyah milik Ustadz Sahrudin (45) di Kampung Sekong RT 01/01, Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kab. Pandeglang saat ini sudah rata dengan tanah. Padepokan itu dibakar massa karena diduga mengajari aliran sesat.
Warga emosi melihat padepokan yang berada menyendiri dari pemukiman warga itu karena sering melakukan ritual yang tidak lazim dilakukan ajaran Islam pada umumnya. Sebagai puncak kekesalan warga kemudian membakar padepokan hingga rata dengan tanah.
Aksi pembakaran ini dipicu karena kekesalan warga terhadap pemilik padepokan tersebut Ust. Sahrudin yang diduga mengajarkan aliran sesat.
Riyat (23) warga sekitar mengatakan, Ustad Sahrudin dianggap sesat dalam mengajarkan Islam karena melakukan aktifitas ibadah dengan cara yang aneh.
“Puluhan penganutnya dikumpulkan di padepokan dan hanya mengucap bacaan zikir saja tanpa melakukan shalat, jadi kami terpaksa membakar tempat ini,” kata Riyat ketika ditemui okezone, Kamis 10 September petang.
Menurut penuturan warga sekitar, para pengikut Sahrudin mayoritas berasal dari Jakarta. Bahkan, Sahrudin juga bukan warga asli desa setempat. Dia pendatang yang baru tinggal sekira empat tahun di Desa Sekong.
Saat ini Sahrudin harus digelandang ke Polres Pandeglang untuk dimintai keterangan atas kasus padepokan tersebut.(ahm)
Sumber: okezone.com
Jamaah Naqsabandiyah Sumbar Rayakan Idul Fitri Hari Ini
Padang (ANTARA News) – Jamaah Tarikat Naqsabandiyah Kota Padang, Sumatera Barat Sabtu pagi telah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah.
Shalat Idul Fitri Jamaah Tarikat Naqsabandiyah digelar di surau Baitul Makmur dan surau Baru, Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh Padang, yang keduanya hanya berjarak sekitar 200 meter.
Di kedua tempat ibadah tersebut, sedikitnya 500 jamaah ikut melaksanakan ibadah Shalat Idul Fitri pada pukul 08.00 WIB.
Dari Pantauan ANTARA, pelaksanaan shalat di kedua tempat tersebut berjalan lancar. Takbir terdengar berkumandang di kedua surau tersebut.
Di Surau Baitul Makmur tampil sebagai khatib Mursyid Syafri Malin Mudo.
Dalam khutbahnya dia berharap ibadah puasa tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. “Semoga kita bisa menjadi orang yang bertaqwa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.
Dia juga mengharapkan Jamaah Naqsabandiyah meningkatkan ibadah kepada Allah dengan senantiasa menguatkan aqidah Islam.
Usai pelaksanaan shalat, para jamaah saling bersalaman sambil saling bermaaf-maafan dan dilanjutkan dengan halal bi halal dengan menyantap makanan yang dibawa masing-masing jamaah.
Nurizah (70), salah sorang jamaah mengungkapkan, mengikuti lebaran lebih awal karena sudah tradisi sejak tahun-tahun sebelumnya.
Aliran yang memiliki pengikut sekitar 3.000 orang tersebut sebelumnya melaksanakan puasa dua hari lebih cepat dari pengumuman pemerintah yang menetapkan 1 Ramadhan yang jatuh pada Sabtu, 22 Agustus 2009 lalu.
Penghitung hari puasa Jamaah Naqsabandiyah dilakukan dengan hisab Muhjid dimana pelaksanaan puasa dilakukan selama 30 hari.
Di Kota Padang selain di Kecamatan Pauh, Jamaah Naqsabandiyah juga terdapat di Kelurahan Tarantang, Baringin, Bandar Buat. Selain di Kota Padang, jamaah juga tersebar di Limapuluh Kota , Pesisir Selatan, Kabupaten Solok Selatan, Padang Pariaman, dan Pasaman.(*)
Sumber: http://ramadhan.antaranews.com/news/1589/jamaah-naqsabandiyah-sumbar-rayakan-idul-fitri-hari-ini















