Arsip untuk kategori ‘Khawarij’
Walikota Anti-Taliban Tewas Dibom
Insiden bom bunuh diri menggunakan mobil kembali berlangsung di Pakistan. Serangan yang terjadi di Kota Adazai, 16 km dari kota Peshawar, Minggu, 9 November 2009, menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk seorang walikota setempat.
Milisi Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang juga melukai 36 orang. Shahibzada Anis Khan, seorang pejabat setempat, mengatakan ledakan itu berasal dari sekitar 10 kilogram bahan peledak.
“Ledakan menewaskan Walikota Abdul Malik, yang sedang berada di luar rumah saat sebuah mobil melintas dan meledak,” kata Khan seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN. Sedangkan anak walikota menderita luka serius dan dirawat di Rumah Sakit Peshawar.
Abdul Hamid Afridi dari Reading Hospital Peshawar mengatakan korban ledakan temasuk seorang anak kecil dan lima orang wanita.
Malik merupakan aktivis Lashkar, sebuah relawan militer yang berperang melawan militan Taliban. Menurut seorang pegawai senior di pemerintahan, hingga dua tahun lalu, Walikota Abdul Malik mendukung Taliban.
Namun, kemudian dia berbalik arah dan tidak menyetujui strategi kelompok tersebut, yang sering kali menempatkan warga sipil sebagai target.
Pemimpin Taliban setempat menyatakan beberapa alasan untuk membunuh Malik. Dia telah memperingatkan, agar siapapun yang berseberangan dengan Taliban akan menjadi target bom bunuh diri.
Sumber: VIVANEws.com
Pembom Bunuh Diri Tewaskan 24 Orang di Pakistan
Seorang pembom bunuh diri dengan target para pekerja yang sedang antri untuk mengambil gaji mereka dekat sebuah bank dan hotel Pakistan, Senin, menewaskan 24 orang, sementara PBB menarik para staf asingnya dari daerah barat laut negara itu.
Bom kedua yang menewaskan korban sipil warga biasa kurang dari seminggu serangan dekat markas besar angkatan darat di kota garnizun Rawalpindi, menunjukkan meluasnya ancaman yang ditimbulkan oleh gerilyawan yang punya hubungan Al Qaida di Pakistan.
Ledakan bom dekat sebuah gedung tempat berkantornya sebuah bank dan Hotel Shalimar berbintang empat menyebabkan di lokasi itu bertebaran tubuh manusia dan ceceran darah dan memporakporandakan jendela-jendela, kata para saksi mata.
“Kami sedang duduk di lantai dua kantor kami. Itu adalah ledakan yang dahsyat,” kata Raja Sher Ali, seorang manajer pemasaran di sebuah perusahaan lokal kepada AFP.
“Gedung kami terguncang seolah-olah terjadi gempa dan ketika kami keluar terdapat asap di mana-mana dan bagian-bagian tubuh masuk ke kantor kami,” katanya.
Lebih dari 300 orang tewas bulan lalu ketika Pakistan melancarkan serangan besar-besaran terhadap kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di daerah suku, tempat para pejabat AS mengatakan mereka berencana melancarkan serangan-serangan terhadap pasukan Barat.
Seorang perwira senior polisi mengatakan serangan itu adalah perbuatan seorang pembom bunuh diri.
“Pembom bunuh diri itu datang dengan menggunakan sebuah sepeda motor dan meledakkan bom yang dibawanya dekat orang-orang yang sedang berkumpul untuk mengambil gaji. Kami menemukan rompi bunuh diri dan beberapa bagian tubuh penyerang bunuh diri itu,” kata pejabat senior polisi Aslam Tarin kepada wartawan.
Deeba Shehnaz, juru bicara tim pertolongan mengemukakan kepada AFP dari lokasi ledakan itu “korban tewas meningkat menjadi 24 orang” dengan 24 lainnya cedera.
Serangan di Mall Road dekat Pearl Continental Hotel dan dekat markas besar angkatan darat Pakistan, tempat 10 pria bersenjata mengepung hampir 24 jam bulan lalu menewaskan 23 orang dan sangat memalukan militer itu.
Keamanan yang lemah menyebabkan PBB, Senin mengumumkan pihaknya akan menarik staf internasionalnya dari Pakistan barat laut itu, hanya beberapa hari paling tidak 118 orang tewas akibat sebuah bom mobil di ibu kota daerah itu, Peshawar.
“Mereka akan dipindahkan. Segera,” kata Isharat Rizvi, seorang juru bicara PBB kepada AFP tetapi tidak bersedia mengatakan berapa jumlah staf yang akan dipindahkan.
Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan badan dunia itu menyatakan tingkat keamanan menghadapi “tahap empat” di Provinsi Perbatasan Barat Laut dan Daerah Suku yang diperintah Federal, kata sebuah pernyataan PBB.
“Keputusan itu diambil sehubungan situasi keamanan yang tegang di wilayah itu,” kata pernyataan tersebut.
Bulan lalu Program Pangan Dunia (WFP) PBB menutup pusat-pusat distribusi yang melayani lebih dari dua juta orang di wilayah barat laut itu karena masalah keamanan.
Meningkatkan serangannya terhadap Taliban, Pakistan, Senin menawarkan hadiah lima juta dolar bagi informasi yang menghasilkan penangkapan, hidup atau mati pemimpin Taliban Hakimullah Mehsud dan 18 pembantunya.
Hadiah bagi penangkapan terhadap para komandan TTP disampaikan melalui iklan pemerintah di halaman depan surat kabar The News dan ditayangkan di saluran televisi Pakistan Minggu malam.
Mehsud, yang mengambil alih kepemimpinan Taliban Pakistan setelah tewasnya orang yang digantikannya Baitullah Mehsud akibat serangan udara AS Agustus lalu. Kepalanya dihargai 50 juta rupee Pakistan (600.240 dolar).
TTP dipersalahkan atas sejumlah serangan terburuk di Pakistan, yang telah menewaskan sekitar 2.400 orang dalam dua tahun belakangan ini.
Pasukan darat terlibat dalam pertempuran jarak dekat selama dua hari dengan Taliban di Kaningurram, salah satu dari kota-kota terbesar di Waziristan Selatan dan disebut sebagai satu pusat operasi penting bagi kelompok payung gerilyawan.
Sumber: antara.co.id
Arab Saudi Temukan Senjata Sel al-Qaeda
Pihak berwenang Arab Saudi menemukan sejumlah besar senjata di dekat ibukota yang terkait dengan sel Al-Qaeda yang dihancurkan pada Agustus, kata seorang jurubicara kementerian dalam negeri, Minggu.
Kantor berita SPA mengutip jurubicara itu yang mengatakan, senjata-senjata tersebut ditemukan di dalam sebuah rumah setelah interogasi terhadap 44 orang yang dituduh memiliki kaitan dengan Al-Qaeda yang penangkapannya diumumkan pada 19 Agustus.
Senjata-senjata yang ditemukan itu mencakup 281 senapan serang Kalashnikov, 250 tempat peluru dan 35 peti yang berisikan 41.250 peluru, kata jurubicara itu.
Ketika 43 orang Saudi dan seorang warga asing ditangkap pada Agustus, polisi juga menyita sekitar 70 senjata mesin, 376 alat peledak elektronik dan lebih dari 31.000 peluru di tiga tempat penyimpanan di sebuah rumah Riyadh dan persembunyian gurun.
“Orang-orang ini mempunyai hubungan dengan organisasi asli Al-Qaeda,” kata jurubicara kementerian dalam negeri Jendral Mansur al-Turki kepada AFP pada Agustus.
Operasi pembunuhan dan pemboman Al-Qaeda antara 2003 dan 2006 menewaskan lebih dari 150 orang Saudi dan warga asing di Arab Saudi, dan ditindaklanjuti aparat keamanan dengan menangkap sekitar 9.000 orang yang diduga pembangkang.(*)
Sumber: antara.co.id
Teroris Tewaskan Banyak Anak dan Perempuan Tak Bersalah
Sebuah bom mobil seberat 150 kilogram meledak di tengah keramaian pasar Meena di Peshawar, Pakistan. Teror yang berlangsung Rabu, 28 Oktober 2009, menewaskan sedikitnya seratus orang dan melukai 200 warga lainnya.
Bom menghancurkan bangunan sehingga banyak orang terkubur di bawah reruntuhan. Setelah ledakan, api membakar toko, masjid, dan rumah. Mereka yang selamat mengaku nyaris tidak memiliki waktu melarikan diri.
“Saat bom meledak, saya tiarap dan saat saya melihat ke atas, semuanya gelap, saya tidak bisa melihat siapa pun. Kendaraan-kendaraan terguling,” kata Imdad, seorang korban selamat, seperti dikutip laman stasiun televisi CNN.
Fareed Ullah yang sedang berada di masjid dekat pasar terluka ketika terjatuh dari lantai dua. Masjid tempatnya belajar terbakar. “Kami hanya dapat melihat lidah api, saya dan teman saya jatuh dari lantai dua saat mencoba melarikan diri,” kata dia.
Bom jarak jauh ini menewaskan setidaknya seratus orang dan melukai 200 lainnya. Korban meninggal terdiri dari 68 pria dan 32 perempuan, sepuluh di antaranya anak-anak. Bom meninggalkan kawah selebar tiga meter.
Bom di tengah hari ini membangkitkan amarah warga dan pemilik toko. Mereka mempertanyakan persiapan keamanan pemerintah.
Ledakan ini merupakan serangan paling mematikan di Pakistan sejak serangan dalam penyambutan perdana menteri Benazir Bhutto, Oktober dua tahun lalu. Saat itu, 135 orang meninggal. Bhutto selamat namun terbunuh dua bulan kemudian.
Pengeboman terjadi bersamaan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton ke Islamabad. Clinton akan membicarakan tambahan dukungan untuk Pakistan menghadapi pemberontak Taliban.
Clinton mengutuk serangan itu dan meminta kelompok yang bertanggung jawab meletakkan senjatanya. “Jika pelaku yakin dengan kepercayaan mereka, undang mereka mengikuti proses politik untuk meyakinkan warga Pakistan,” kata Clinton dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi.
Sementara Qureshi menyampaikan belasungkawa mendalam kepada korban dan keluarganya. Dia juga menyatakan akan melawan pemberontak demi stabilitas dan perdamaian Pakistan. “Kami telah mengalahkan kalian [militan] di Swat dan Malakand. Serangan terhadap warga tidak bersalah ini tidak akan memupuskan keteguhan kami,” ujar dia.
Referensi: VIVAnews.com
Serangan di Kabul, Taliban Mengaku Bertanggung Jawab
Taliban mengaku bertanggung jawab atas penyanderaan sejumlah pekerja PBB di ibukota Afghanistan, Kabul, Rabu.
“Beberapa pembom bunuh diri Taliban menyandera beberapa pekerja PBB di Kabul,” kata faksi santri tersebut dalam pesan berbahasa Inggris yang dikirim kepada Reuters.
Satu sumber polisi Afghanistan mengatakan beberapa gerilyawan menyandera empat warganegara asing di satu wisma tamu di Kabul.
“Mereka (penyandera) mungkin membunuh sebagian dari mereka,” sumber polisi itu.
Juru bicara PBB mengatakan beberapa pekerja PBB telah cedera.(*)
Sumber: antara.co.id
Lima Staf PBB Tewas di Afghanistan
Sedikitnya lima staf PBB tewas dan enam orang lagi menderita luka-luka termasuk beberapa diantaranya cedera serius, ketika kelompok pria bersenjata menyerang sebuah wisma negara di pusat kota Kabul pada Rabu, katajurubicara PBB.
Lima korban tewas yang telah dikonfirmasi itu adalah para staf PBB namun jenazah keenam belum diidentikasi dan sedang menunggu pemeriksaan forensik, kata Adrian Edwards, jurubicara PBB, yang sebelumnya menyebutkan bahwa jumlah staf PBB yang tewas adalah enam orang.
Ia belum dapat mengkonfirmasi warga negara para staf PBB korban tewas tersebut.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kabul mengatakan seorang warga AS yang bekerja untuk PBB juga tewas.
Wisma Negara, Bekhtar Guesthouse, yang ditempati para staf PBB itu diserang pada pukul 6:30 waktu setempat (8:00 WIB) oleh tiga pria bersenjata yang menggunakan jaket yang dipasang bahan peledak, kata Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Zemarai Bashery.
Taliban mengklaim bertanggungjawab atas serangan itu, dan mengatakan serangan itu merupakan langkah awal dalam kampanye melawan pemilihan presiden putaran kedua mendatang.(*)
Sumber: antaranews.com
Kelompok Afiliasi al-Qaidah Mengaku Bertanggung Jawab
Sebuah kelompok yang berada di bawah kontrol al-Qaidah dikabarkan menyatakan bertanggung jawab terhadap serangan bom yang menewaskan 155 orang. Demikian berita yang dilansir Associated Press, Selasa (27/10).
Kelompok yang bernama Islamic State of Iraq (Negara Islam Irak) dalam sebuah posting internet menyatakan bertanggung jawab atas serangan bom. Meski demikian, berita itu belum dapat dikonfirmasikan kebenarannya. Kelompok yang sama juga pernah mengaku bertanggung jawab terhadap peledakan gedung-gedung pemerintah Irak pada Agustus lalu yang menewaskan 100 orang.
Seperti dikabarkan sebelumnya, pada Minggu lalu ledakan terjadi di gedung pemerintah Irak yang menyebabkan 155 orang tewas. Mereka yang tewas termasuk belasan anak-anak yang terjebak dalam sebuah bis. Ledakan ini menghantam Gedung Kementerian Kehakiman, dan Kantor Pemerintahan Kota Bahgdad, di dekat Zona Hijau, sehingga menimbulkan kerusakan parah. Ledakan itu terjadi beruntun, sekitar jam 10.30 pagi waktu Baghdad, saat warga kota tersebut sedang menuju ke tempat kerja mereka.
Sumber: liputan6.com
Taliban Akui Serang Universitas Islam Pakistan
Taliban telah mengaku bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri di salah satu universitas Islam terbesar di dunia. Demikian diwartakan ABC News, Rabu (21/10). Serangan yang terjadi di Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pakistan, ini menewaskan enam termasuk empat mahasiswa dan 22 orang lainnya.
Komandan Taliban, Qari Hussein mengatakan seluruh Pakistan kini merupakan zona perang. Dia pun telah bersumpah untuk menyerang lagi selama tentara Pakistan masih melanjutkan serangan ke kubu Taliban di Waziristan Selatan, Pakistan.
Seorang mahasiswa di kampus tersebut, Faheem Beyg mengatakan banyak rekannya yang mengaku tak mengerti mengapa teroris memilih tempat belajar tentang Islam ini sebagai target. “Mereka membunuh saudara-saudara mereka. Kami adalah saudara-saudara mereka, kami adalah anak-anak mereka dan mereka membunuh kami. Kami berada di sini untuk belajar. Menurut saya mereka sangat tidak manusiawi, yang mereka lakukan tidak dapat dipercaya. Apa sih yang mereka lakukan? ”
Serangan teroris ini adalah yang pertama sejak peluncuran besar serangan militer Pakistan terhadap Taliban di wilayah suku Waziristan Selatan pada akhir pekan. Pasukan keamanan telah siaga penuh dan banyak sekolah dan perguruan tinggi di Islamabad telah ditutup selama dua hari. Pasalnya, informasi intelijen tertentu mengatakan sekolah-sekolah tersebut kemungkinan akan menjadi target penyerangan.
Kendati demikian, seorang mahasiswa bernama Shokut Ahmed mengatakan dia tidak takut dan akan terus belajar. “Kami tidak takut kepada mereka. Kami akan melawan mereka dengan cara belajar, dengan ilmu pengetahuan.”
Pertempuran antara Taliban dan pemerintah Pakistan semakin intensif. Pemerintah Pakistan mengakui bahwa pasukannya bergerak lambat di daerah kasar Waziristan Selatan. Operasi tersebut bisa bisa memakan waktu hingga delapan pekan. Sementara itu, tekanan dan bahaya semakin meningkat.
Ayah seorang mahasiswa korban ledakan yang terluka, Waris Syekh berharap militer segera menghentikan serangan di Waziristan Selatan. “Tentunya harus dihentikan atau kita akan dibunuh untuk Amerika dan negara-negara NATO lainnya,” ujar Syekh. “Ini bukanlah himbauan untuk orang-orang untuk melakukan serangan ini. Ini adalah himbauan kepada pemerintah.” (AYB)
Sumber: liputan6.com
Dua Anggota al-Qaida, Satu Polisi Tewas Ditembak di Saudi
Riyadh (ANTARA News/AFP) – Dua orang yang diduga anggota al-Qaida tewas dan orang ketiga tertangkap dalam baku tembak di Arab Saudi Selasa yang juga menyebabkan tewasnya seorang polisi, kata Kementerian Dalam Negeri.
Jurubicara kementerian itu Jenderal Mansur al-Turki, seperti dikutip kantor berita resmi SPA, mengatakan, tembak-menembak dini hari itu tejadi di sebuah pos pemeriksaan polisi di provinsi Jizan di perbatasan selatannya dengan Yaman.
al-Turki menyatakan pada kantor berita itu bahwa dua dari ketiga tersangka, yang naik sebuah kendaraan, mengenakan pakaian wanita dan memakai rompi yang dimuati bahan peledak serta membawa granat.
“Lebih banyak granat, senjata otomatis dan bahan pembuatan bom” juga ditemukan dalam kendaraan itu.
Tembak-menembak itu meletus ketika kendaraan tersebut baru saja mau menjalani pemeriksaan atas dasar “informasi mengenai perencanaan aksi teroris oleh minoritas yang menyimpang”, istilah yang digunakan pejabat Saudi untuk al-Qaida.
Jurubicara itu menuturkan bahwa ketika seorang wanita polisi akan memeriksa identitas dua orang dalam kendaraan yang mengenakan jubah wanita itu, para tersangka tersebut mulai menembak pasukan keamanan, yang balas menembak.
Ia menyatakan hujan peluru itu menyebabkan “kematian dua penumpang dalam kendaraan tersebut dan penangkapan orang ketiga.”
al-Turki mengatakan satu pejabat polisi tewas dan satu lainnya terluka dalam tembak-menembak, dan menambahkan tidak ada rincian lagi akan diberikan mengenai peritiwa itu “sehingga penyelidikan dapat segera berlangsung.”
Tidak diketahui dengan segera apakah wanita polisi tersebut termasuk di antara korban.
Pada 18 Agustus Pangeran Mohammad bin Nayef, anggota sebuah keluarga kerajaan yang bertanggungjawab atas perang anti-teror kerajaan itu, lolos dari serangan bom bunuh diri di Jeddah yang diakui oleh al-Qaida.
Wakil Mendagri hanya menderita luka luar ketika seorang pembom bunuh diri mendekatinya dan meledakkan bomnya.
Pangeran Mohammad telah menerima tamu pada akhir puasa hari itu pada bulan suci Ramadhan, kata SPA waktu itu.
Serangan itu menyusul penangkapan di Arab Saudi pada awal Agustus atas 44 tersangka al-Qaida, termasuk satu orang asing, dan ditemukannya tempat penyembunyian senjata yang digunakan oleh kelompok tersebut.
Polisi menemukan sekitar 70 senapan dan amunisi, dan juga 280 bahan peledak elektronik di Riyadh, dan 96 peledak yang sama yang disembunyikan di padang pasir di daerah Qassim di utara ibukota, kata SPA.
Polisi mengatakan bahwa beberapa anggota kelompok itu telah menerima pelatihan untuk menggunakan senjata dan bahan peledak di luar dan di dalam kerajaan itu, tempat lahir pemimpin al-Qaida, Osama bin Laden.(*)
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1255465306/dua-anggota-al-qaida-satu-polisi-tewas-ditembak-di-saudi
Noordin M. Top Tewas, Jenazahnya Dikeluarkan dengan Ditarik Tali
Solo (ANTARA News) – Suratmin, seorang saksi mata evakuasi empat jenazah teroris, mengatakan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mengeluarkan jenazah Noordin M Top dari dalam rumah dengan cara ditarik.
“Jenazah Noordin ditarik dengan menggunakan tali yang biasa digunakan untuk olah raga panjat tebing,” kata Suratmin yang juga menjadi Ketua RT 3, RW 11, Kampung Kepuhsari, di Solo, Jumat.
Sebelum ditarik, katanya, ada dua orang anggota Densus 88 yang masuk ke kamar mandi yang menjadi tempat jenazah Noordin usai baku tembak.
“Mereka mengikatkan tali pada kaki kanan Noordin. Setelah mengikat mereka langsung keluar dari kamar mandi melalui lubang dinding yang berlubang akibat ledakan bom,” katanya.
Berdasarkan jawaban yang dilontarkan salah satu anggota kepolisian yang berada di dekatnya, dia mengatakan, tindakan penarikan tersebut karena dikhawatirkan masih ada bom pada tubuh Noordin.
“Jenazah Noordin ditarik hingga jarak empat meter ke halaman rumah sebelah timur. Setelah memastikan tidak ada bom, jenazah Noordin dimasukkan ke dalam kantong mayat berwarna kuning,” katanya.
Suratmin mengatakan, keberadaan dia di lokasi penyergapan karena diminta Densus 88 untuk menjadi saksi proses pengevakuasian jenazah teroris.
“Sekitar pukul 7:30 Densus 88 menyuruh saya untuk berada di lokasi kejadian. Selain saya yang diminta, Sri Wahyono yang merupakan Lurah Mojosongo dan salah satu anggota Polisi Masyarakat (Polmas) setempat juga menjadi saksi,” katanya.
Setelah pengevakuasian empat jenazah, lanjutnya, dia dan dua saksi lainnya diajak masuk ke rumah Susilo alias Adib.
“Kami bersama empat orang anggota densus menyaksikan sejumlah barang bukti yang berada di dalam rumah tersebut,” katanya.
Setelah itu, lanjutnya, Densus 88 memindahkan semua barang bukti ke teras rumah milik Widodo yang berada di samping rumah Susilo.
“Barang bukti yang terkumpul, antara lain satu senapan laras panjang beserta peluru semagasin, satu pistol, dua laptop, satu `handycam`, dua telepon genggam, satu dompet, satu jam tangan, beberapa surat dengan tulisan tangan, dan sejumlah dokumen,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, Densus 88 saat itu juga menemukan enam karung potasium, dua karung belerang, kabel berwarna putih, dan buku tabungan BNI atas nama Suparmin.
“Satu hari setelah penyergapan teroris di kampungnya, saya dan dua saksi lainnya kembali dipanggil kepolisian untuk menandatangani surat yang saya ketahui sebagai berita acara penyergapan yang dilakukan kepolisian,” katanya.
Suratmin mengatakan, penandatanganan surat tersebut dilakukan pada Jumat (18/9) pukul 10:30 di Kantor Kelurahan Mojosongo, Kota Solo, Jawa Tengah.(*)
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1253272325/saksi-mata-noordin-dikeluarkan-dengan-ditarik-tali















