Arsip untuk kategori ‘Gerak Langkah Kaum Kafir’
Ada Upaya Penyebaran Agama Tertentu di Padang
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat temukan upaya penyebaran agama tertentu pada masyarakat korban bencana di Koto Tinggi, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman.
Menurut Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polresta Pariaman untuk menangani kasus penyebaran agama berkedok bantuan.
“Kami dan masyarakat tangkap langsung pelakunya dan barang bukti berupa injil telah disita di Polres Pariaman,” kata Gusrizal Gazahar pada VIVAnews, Senin, 2 November 2009.
MUI menemukan upaya penyebaran agama tertentu pada orang yang telah beragama ini setelah melakukan penulusuran ke sejumlah daerah yang terkena dampak bencana. Gusrizal mengatakan, penyebaran Injil ini dilakukan warga negara Amerika dibantu Lembaga Alkitab dari Jakarta.
“Warga Indonesia dari Lembaga Alkitab ini berinisial Toni dan saat ini Polresta Pariaman menyita sekitar 20 Injil yang dibagi-bagikan mereka,” kata Gusrizal. MUI Sumbar mengaku kecewa dengan kedok penyebaran agama ini berkedok bantuan.
Sejauh ini, ujar Gusrizal, pihaknya telah menyebarkan sejumlah ulama di berbagai titik bencana untuk mengantisipasi sejumlah kasus yang menghebohkan masyarakat Sumbar ini. MUI saat ini berkonsentrasi untuk menyebarkan ulama-ulama memantau kasus serupa di Kabupaten Agam.
Sekitar 20 tim disebarkan MUI Sumbar untuk memeriksa kasus-kasus penyebaran agama berkedok bantuan. Kekhawatiran MUI Sumbar muncul saat bantuan masyarakat Israel berdatangan ke Kabupaten Padang Pariaman.
“Jika memang membantu dengan alasan kemanusiaan tidak ada masalah, tapi jangan digunakan untuk kepentingan lain,” kata Ketua MUI Sumbar ini.
Laporan: Eri Naldi | Padang
Sumber: VIVANews.com
Kaum Kafir Kristen Melakukan Hal-hal Licik untuk Dapat Membangun Gereja
Warga Pulo Besar di RW 11 di Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara memperotes pembangunan gereja di wilayahnya, meski demikian proyek pembangunan tetap berjalan.
Menurut salah seorang warga Mursidi, pihak pembangun mulanya tidak transparan soal proyek yang ada di RT 12/11 itu.
“Mereka sebelumnya hanya menyebut akan membangun poliklinik dan yayasan, namun tidak menyebut akan membangun gereja,” kata Mursidi kepada okezone, Jumat (23/10/2009).
Persoalan lain, warga menuding sejumlah pejabat RT dan RW di lingkungan tersebut telah menerima sejumlah dana agar menyetujui pembangunan tersebut. “Mereka juga memalsukan tandatangan warga,” terangnya.
Adanya kontroversi ini juga diduga membuat pejabat ketua RT yang baru Agus yang ikut menentang pembangunan itu tidak diakui oleh pihak lurah. Pihak RT yang diakui adalah ketua RT yang lama.
Saat ini sejumlah spanduk penolakan dibentangkan oleh warga di sekitar proyek namun pembangunan tetap dilanjutkan. Seng-seng pun telah terpasang menutupi area proyek. (fit)
Referensi: okezone.com
Wanita Berjilbab Dibunuh di Jerman
Pembunuhan Marwa el-Sherbini di Jerman memicu kemarahan di kalangan umat Muslim mengingat kasus itu merupakan peristiwa yang brutal dan penuh kebencian. Menurut para saksi, perempuan yang tengah hamil itu ditusuk berkali-kali hingga tewas di suatu ruang sidang pengadilan di Kota Dresden, yang saat itu terdapat cukup banyak orang.
Peristiwa itu sudah terjadi empat bulan lalu, tepatnya pada bulan Juli. Pembunuhan itu dilakukan oleh seorang pria bernama Alex Wiens, yang tampaknya memendam kebencian kepada kaum Muslim terkait dengan penampilan Marwa, yang saat itu mengenakan jilbab dan jubah yang menutupi seluruh auratnya.
Menurut majalah Time, kasus itu tak pelak mengundang kemarahan umat Muslim di penjuru dunia. Di Mesir, ribuan orang berdemonstrasi. Begitu pula di Iran dan sejumlah negara Islam. Mereka menyesalkan munculnya Islamophobia dan adanya diskriminasi ras di Jerman.
Buktinya, insiden yang sudah terjadi empat bulan itu kurang mendapat perhatian di kalangan media Jerman, hingga akhirnya kasus itu diadili pada awal pekan ini. Maka, bersama empat juta komunitas Muslim di Jerman, umat Islam di banyak negara mulai menaruh perhatian atas serius tidaknya pihak berwenang Jerman dalam mengadili pelaku penusukan atas Marwa.
Sidang pengadilan dimulai pada Senin lalu, 26 Oktober 2009, di gedung pengadilan Kota Dresden. Di gedung ini pulalah Marwa ditusuk secara keji.
Di Mesir, perempuan berusia 32 tahun itu disebut kalangan media sebagai “Syahidah Berjilbab.” “Masyarakat berharap agar keadilan bisa ditegakkan dengan cepat,” kata Duta Besar Mesir untuk Jerman, Ramzy Ezzelsin, kepada stasiun televisi al-Jazeera.
Wiens dijadikan terdakwa karena pada Juli lalu, di gedung pengadilan yang sama, dia menusuk Marwa. Sidang yang berlangsung pada saat itu menghadirkan Marwa yang mengajukan tuntutan kepada Weins karena dia pernah menghina jilbab yang dia kenakan.
Bersama suaminya, Marwa saat itu menuntut Wiens karena dia menyebut Marwa sebagai seorang teroris dan pelacur yang mengenakan jilbab.
Senin lalu, suami Marwa, Elwy Okaz, bersaksi melawan Wiens. Dia mengungkapkan bagaimana dia menusuk istrinya berulang kali (disebut sebanyak 18 kali) dengan sebilah pisau dapur.
Saat Okaz mencoba melindungi istrinya, dia juga ditusuk dan berulang kali dilukai oleh Wiens. Selama keributan itu, petugas di ruang pengadilan juga menembak Okaz di kaki, dia justru tidak menembak penyerangnya, yakni Wiens.
Serangan Wiens menimbulkan gelombang protes anti-Jerman di dunia muslim. Media menyebut El-Sherbini sebagai “Syahidah Berjilbab”. (VIVAnews)
Referensi: VIVANews.com
MUI Sumbar: Waspadai Bantuan dari Israel
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) menyayangkan masuknya bantuan korban gempa dari Israel. MUI khawatir bantuan ini akan mempengaruhi aqidah masyarakat.
“Kita tahu prinsip Yahudi, tidak ada yang gratis dari mereka,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat Gusrizal Gazahar, Senin (26/10) seperti dilansir VIVAnews.
Ia mengimbau, agar masyarakat korban bencana tidak tergantung pada materi semata. Kekhawatiran Ketua MUI Sumbar ini muncul karena bantuan ini bisa mempengaruhi keimanan masyarakat.himpunan
Seperti diketahui, masyarakat Israel mengirimkan bantuan kemanusiaan senilai US$500 ribu bagi korban gempa Sumatera Barat. Bantuan dari masyarakat Israel ini disalurkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke sejumlah lokasi terparah akibat gempa.
Bantuan dari Israel yang disalurkan HMI berupa obat-obatan bagi sejumlah rumah sakit di Kabuapten Padang Pariaman serta Kabupaten Agam. Menurut Ketua PB HMI Pusat, Arif Musthofa, bantuan ini murni sebagai bentuk aksi kemanusiaan.
“Karena ini murni sebagai bentuk aksi kemanusiaan tanpa embel-embel lain, kita terima dan didistribusikan,” kata Arif Mustofa, Senin (26/10).
Sumber: tvone.co.id
Waspadai Upaya Pemurtadan Agama Berkedok Bantuan Gempa
Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), Buya H. Mas`oed Abidin mengingatkan masyarakat daerah itu, terutama yang terkena bencana gempa bumi jangan sampai berubah aqidah karena berharap bantuan.
Buya Mas`oed Abidin menyatakan itu, ketika diminta tanggapannya adanya penyitaan 24 buah Injil, selebaran dan komik anak-anak oleh Polresta Padang Pariaman, Kamis (29/10). Dia sangat menyayangkan adanya relawan yang berkedok menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk memurtadkan (mengkafirkan) masyarakat yang memeluk Islam.
“Betul sejumlah masyarakat Sumbar pascagempa tengah berada dalam keadaan susah, lapar dan rumah rusak. Namun, bukan berharap bantuan untuk mengubah aqidah (agama) mereka,” kata buya menyesalkan ulah oknum tak bertanggung jawab tersebut.
Jadi, relawan yang ingin merusak aqidah masyarakat Minang, agar kembali sadar dan sebaiknya kembali bawa misi tersebut jauh-jauh. “Masyarakat korban benar berharap bantuan yang disalurkan dengan ikhlas tanpa ada iming-imingnya mengkafirkan,” katanya.
Ia menambahkan, kalau ada “udang dibalik batu” sebaiknya tak disalurkan bantuan. Justru itu, masyarakat Sumbar yang berada di daerah terkena bencana gempa beberapa waktu lalu, diminta tak terpengaruh dengan bantuan yang sampai merubah aqidah.
“Harga Islam bukanlah sebungkus mie instan. Lebih baik masyarakat makan tanah dan berlindung di bawah langit dari pada aqidah berubah,” katanya mengingatkan masyarakat.
Dugaan kasus pemurtadan di kawasan Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman, tercium pihak Polresta Pariaman. Polresta berhasil menyita 24 buah Injil. Selain itu, juga selebaran dan komik anak-anak dengan judul “Si Bodoh” dan “Bagaimana Caranya jadi Kaya” yang diduga komik itu disebarkan ke sekolah-sekolah. Selanjutnya, ketiga pelaku pemurtadan itu juga datang dalam rangka memberikan bantuan uang, yakni bagi orang dewasa Rp10 ribu/orang, anak-anak Rp5.000/orang.
Kasat Reskrim Polresta Pariaman, AKP Hendri Yahya, menyebutkan ada tiga orang pelaku, St dan RG asal California, AS didampingi penerjemah mereka Doni dari Jakarta. “Kita sudah mengopi paspor dan identitasnya mereka, kini tengah dilacak organisasi mereka,” katanya dan menambahkan, pihaknya belum bisa menetapkan tindakan atas kasus tersebut. Bila sudah, Mabes Polri yang akan menangani.
Tindak misionaris itu tercium ketika beredarnya video hasil rekaman ponsel berisi ajakan murtad berdurasi 48 detik di Kabupaten Padang Pariaman.
Sumber: tvone.co.id















