Arsip untuk kategori ‘Palestina’
Para Pemukim Yahudi Serang Masjid di Tepi Barat
Para pemukim Yahudi diduga menyerang sebuah masjid di Tepi Barat serta membakar perpustakaan dan pesan-pesan kebencian tertulis di dinding, kata sumber-sumber pejabat keamanan Palestina, Jumat.
Bentrokan terjadi ketika penduduk desa melemparkan batu-batu ke pasukan Israel yang dikerahkan untuk menyelidiki insiden Kamis malam di masjid desa Kfar Yasuf. Pasukan keamanan menanggapi aksi penduduk itu dengan menyemprotkan gas air mata, kata para pejabat lokal.
Daerah Tepi Barat bagian utara adalah tempat sejumlah pemukim Israel yang berhaluan paling keras yang membela kebijakan “pembalasan” dengan dasar itu mereka menargetkan warga Palestina untuk membalas setiap tindakan pemerintah Israel yang mereka anggap mengancam permukiman-permukiman Yahudi.
Militer Israel mengatakan “tampaknya para penyerang menulis pesan-pesan penuh kebencian dalam bahasa Yahudi selain membakar rak-rak buku dan sebuah karpet.
Militer Israel menyatakan kepada badan-badan keamanan Pemerintah Palestina pihaknya “menganggap insiden menyakitkan” dan pasukan keamanan sedang berusaha untuk menangkap para pelaku, kata pernyataan itu.
Pekan lalu sebuah rumah dan tiga kendaraan dibakar di sebuah desa lain juga dekat kota Nablus, Tepi Barat utara. Pemilik rumah itu mengemukakan kepada polisi ia melihat tiga pemukim Yahudi mulai membakar di masjid itu.
Para pemukim mengecam keputusan pemerintah untuk memberlakukan penangguhan 10 bulan mengenai izin pembangunan rumah baru bagi warga Israel di Tepi Barat yang diduduki, dekat Jerusalem timur yang dicaplok Israel itu. Kota itu berpenduduk mayoritas warga Arab.
Banyak pemukim menganggap mereka memiliki hak yang diberikan Tuhan untuk tinggal di tanah yang menurut kitab injil milik Israel, yang termasuk Tepi Barat itu.
Masalah permukiman itu adalah salah-satu hal yang paling mengganjal dalam usaha-usaha perdamaian di Timur Tengah.(*)
Sumber: AntaraNews
Israel Setujui Pembangunan 900 Unit Rumah Baru di Jerusalem Timur
Kementerian dalam negeri Israel Selasa mengizinkan pembangunan 900 unit perumahan baru di Jerusalem timur yang dicaplok, dalam tindakan yang akan memancing kecaman internasional, menurut kementerian itu.
“Komisi perencanaan dan pembangunan telah mengizinkan pembangunan 900 unit perumahan di lingkungan Gilo di Jerusalem,” kementerian itu menerangkan.
Langkah tersebut tiba ketika AS mendesak negara Yahudi itu untuk menghentikan aktivitas permukimannya, saat Amerika berupaya untuk membawa Israel dan Palestina kembali ke meja perundingan.
Masyarakat internasional acap kali mengkritik Israel karena membangun di tanah Palestina yang diduduki, yang Israel rebut pada 1967, tapi tanah tempat Palestina ingin membangun negara mereka pada masa depan.
Pada Senin, sebuah harian Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menolak permintaan AS untuk membekukan proyek di Gilo, di pinggiran selatan Jerusalem itu.
Diminta untuk mengomentari laporan tersebut, seorang pejabat senior Israel hanya menyatakan bahwa Netanyahu “siap untuk menunjukkan pengekangan maksimal ketika hal itu mengenai pembangunan di Judea dan Samaria (Tepi Barat) untuk membantu memulai lagi pembicaraan, tapi kebijakan ini tidak berlaku di Jerusalem, ibukota kami.”
Walikota Jerusalem Nir Barkat mengatakan dalam satu pernyataan, ia “menolak dengan keras permintaan Amerika untuk menghentikan pembangunan di Jerusalem dan akan membolehkan pembangunan untuk orang Yahudi, orang Islam dan orang Kristen di satu bagian Jerusalem tanpa prasangka”.
“Permintaan untuk menghetikan pembangunan oleh agama adalah tidak sah di AS atau di tempat bebas lainnya di dunia.”
Gilo terletak di Jerusalem timur yang sebagian besar penduduknya orang Arab, yang Israel rebut bersama dengan Tepi Barat dari Jordania dalam Perang Enam Hari pada 1967 dan kemudian dicaplok dalam tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Israel menganggap dua bagian kota suci itu sebagai ibukotanya yang abadi dan tak bisa dibagi serta tidak akan meninjau pembangunan di bagian timurnya sebagai permukiman. Palestina ingin menjadikan bagian timur kota Jerusalem itu sebagai ibukota negara mereka yang dijanjikan.
Sekitar 180.000 orang Israel tinggal di Jerusalem Timur berdampingan dengan hampir 270.000 orang Palestina.(*)
Sumber: antara.co.id
Israel Menghentikan Pasokan Air untuk Rakyat Palestina
Israel melarang akses untuk rakyat Palestina bahkan untuk (kebutuhan) minimal dasar akan air bersih, kata Amnesti Internasional.
Dalam sebuah laporan, kelompok Hak Asasi Manusia mengatakan pembatasan air oleh Israel diskriminasi terhadap rakyat Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.
Laporan itu mengatakan bahwa di Gaza, blokade Israel telah membawa sistem air dan pembuangan kotoran ke “tingkat krisis.”
Israel mengatakan bahwa laporan tersebut cacat dan rakyat Palestina mendapatkan lebih banyak air daripada apa yang telah disepakati pada perjanjian perdamaian tahun 1990-an.
Kebutuhan Dasar
Dalam laporan setelab 112 halaman, Amnesti mengatakan bahwa tingkat rata-rata konsumsi air harian rakyat Palestina mencapai 70 liter per hari, sedangkan rakyat Israel mengkonsumsi 300 liter per hari.
Laporan tersebut mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina hampir tidak memperoleh 20 liter air per hari – jumlah minimum yang dianjurkan bahkan dalam keadaan darurat yang berperikemanusiaan.
Amnesti mengatakan bahwa Israel menolak rakyat Palestina di Tepi Barat untuk menggali sumur, dan bahkan telah menghancurkan bak-bak penampungan air dan menyita tangki-tangki air.
Pada saat yang sama, laporan tersebut menyatakan, penduduk Israel menikmati kolam-kolam renang dan taman-taman hijau.
Di Gaza, Israel menolak akses ke banyak bahan bangunan yang dibutuhkan untuk merenovasi sistem air yang rusak, dokumen tersebut menyatakan.
Dokumen tersebut menambahkan bahwa Israel menggunakan lebih dari 80% air dari “Mountain Aquifer” – sumber utama air bawah tanah di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki Israel.
“Air merupakan kebutuhan dasar dan hak, tetapi untuk banyak rakyat Palestina mendapatkan bahkan air dalam tingkat jumlah minimal untuk penghidupan (dan bahkan) berkualitas rendah (sekalipun) telah menjadi sebuah kemewahan yang jarang sekali mereka dapat peroleh,” kata Donatella Rovera dari Amnesti Internasional.
“Israel harus mengakhiri kebijakan diskriminatifnya, segera menghapus semua pembatasan yang diberlakukan ke akses rakyat Palestina terhadap air.”
Rovera juga mendesak Israel untuk “bertanggung jawab untuk menanggapi masalah-masalah yang diciptakannya dengan memperbolehkan rakyat Palestina untuk mengakses secara adil sumberdaya-sumberdaya air bersama.”
Jurubicara pemerintahan Israel, Mark Regev, mengatakan bahwa laporan tersebut secara kenyataan tidak akurat, menyalahkan kesalah-pengelolaan sumberdaya air rakyat Palestina.
Ia juga menolak klaim bahwa Israel melarang rakyat Palestina untuk mengebor untuk (mendapatkan) air.
Jurubicara mengatakan bahwa Israel telah menyetujui 82 proyek yang seperti itu akan tetapi Palestina hanya membuat 26 saja.
Sumber: http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/8327188.stm
50 Sinagog Baru Dibangun Sekitar Al-Aqsha
Riyadh, Arab Saudi (ANTARA News/SPA-OANA)
Satu laporan resmi Palestina, yang dikeluarkan Selasa lalu oleh lembaga Warisan dan Waqaf Alaqsha, mengungkapkan lebih dari 50 sinagog telah didirikan beberapa tahun ini di sekitar Masjid Alaqsha.
Sejumlah sinagog lagi akan dibangun dimana yang terbesar akan didirikan di sekolah Tankaseyah yang merupakan salah satu Masjid Alaqsha.
Laporan yang disampaikan ke Kantor PBB di Amman, Jordania ini menyatakan pemerintah pendudukan Israel menyetujui rencana pembangunan sinagog itu dan menyediakan dana 40 juta dolar AS untuk itu.
Sinagog terdekat dengan Masjid Al-Aqsha dihiasi kubah besar yang sengaja dibangun untuk mengganggu pemandangan dan menghalangi kubah Masjid Umar (Dome of Rock Mosque).
Laporan itu juga menyatakan sinagog itu ada di bawah Masjid Alaqsha, sementara terowongan digali oleh penguasa Israel dan kaum Yahudi, dalam sinagog besar berukuran 1.000 meter persegi yang akan dibangun di lapangan Bouraq (Tembok Ratapan).
Selain itu, ada rencana untuk membangun satu sinagog di Menara Al Laqlaq sisi timur laut areal Masjid Alaqsha.
Sinagog besar yang direncanakan segera dibangun di Lapangan Al-Bouraq itu akan digunakan sebagai pusat pengajaran Taurat, kata laporan itu.
Total, pemerintah pendudukan Israel berencana membangun 35 rumah dan satu sinagog serta 1.000 permukiman baru Yahudi di lingkungan Masjid Al-Aqsha. (*)
Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2009/4/30/50-sinagog-baru-dibangun-sekitar-al-aqsha/
Pasukan Israel Bunuh Pemuda Palestina di Tepi Barat
Ramallah, Tepi Barat
(ANTARA News/Reuters)
Pasukan Israel melepaskan tembakan-tembakan yang menewaskan seorang pemuda Palestina dan mencederai seorang lagi Rabu setelah bom-bom api dilemparkan ke arah kendaraan mereka di wilayah pendudukan Tepi Barat, kata seorang juru bicara militer Israel.
Seorang petugas medis Palestina mengatakan bahwa Fayez Atta (17), yang berasal dari sebuah desa di dekat kota Ramallah, Tepi Barat, tewas akibat luka-luka tembakan, dan seorang pemuda lagi yang cedera dirawat di sebuah rumah sakit Israel dalam kondisi serius.
Juru bicara Israel itu mengatakan, pasukan melepaskan tembakan ketika orang-orang Palestina yang mereka anggap menyerang kendaraan mereka dengan bom api mengabaikan perintah agar menyerah.
Atta adalah permuda pertama Palestina yang tewas oleh tembakan Israel dalam kurun waktu sekitar sebulan ini di Tepi Barat, wilayah yang direbut Israel dalam perang pada 1967 dan kini dikuasai oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang didukung Barat.
Sebagian besar kekerasan Israel-Palestina berlangsung di perbatasan Israel dengan Jalur Gaza, dimana lebih dari 1.300 orang Palestina dan 13 orang Israel tewas dalam ofensif 22 hari Israel yang diluncurkan terhadap Hamas pada Desember.
Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari dan sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel.
Kekerasan Israel-Hamas meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember.
Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran sejak 27 Desember dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.
Jumlah korban tewas Palestina mencapai sedikitnya 1.300, termasuk lebih dari 400 anak, dan 5.300 orang cedera di Gaza sejak Israel meluncurkan ofensif terhadap Hamas pada 27 Desember.
Di pihak Israel, hanya tiga warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket.
Pasukan Israel meninggalkan Jalur Gaza setelah daerah pesisir itu hancur akibat ofensif 22 hari. Mereka menyelesaikan penarikan pasukan dari wilayah yang dikuasai Hamas itu pada 21 Januari.(*)
Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2009/3/12/pasukan-israel-bunuh-pemuda-palestina-di-tepi-barat/















