Berita Dunia Islam Indonesia

Kumpulan berita yang terjadi dalam dunia Islam Indonesia

Arsip untuk tag ‘mui’

MUI Tolak Alat Pemindai Tubuh ‘Telanjang’ di Bandara di Indonesia

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak penggunaaan alat pemindai tubuh (full-body scanner) dipasang di bandara di Indonesia. Selain tidak sesuai aturan agama, juga melanggar hak asasi manusia.

“Jangan dulu dipasang di Indonesia. Kita ini bukan negara paranoid atau negara takut. Yang kita takutkan justru alat itu melanggar hakĀ  asasi dan bisa jadi mainan untuk menzalimi wanita,” jelas Ketua MUI Amidhan saat dihubungi detikcom, Selasa (23/2/2010).

MUI sepakat dengan ketidaksetujuan Paus Benedict XVI terhadap alat yang mampu ‘menelanjangi’ tubuh itu. “Itu melanggar hak asasi. Kalau yang kelihatan tulang itu tidak apa, tapi kalau yang tampak tubuh bisa jadi mainan,” terangnya.

MUI memberikan perkecualian dalam penggunaan alat itu dalam kondisi darurat, menyangkut keamanan dan ketertiban negara.

“Itu pun tentu yang memeriksanya wanita untuk wanita, dan pria dengan pria,” tambahnya.

Sedang untuk saat ini, Amidhan menilai bukan dalam kondisi darurat dan alat yang lain pun masih bisa digunakan. “Jadi pokoknya sepanjang tidak ada alat lain, artinya darurat,” tutupnya.

Alat pemindai modern ini telah ada di sejumlah bandara di Indonesia sejak tahun 2008. Scanner itu bermerek ProVision buatan pabrikan L3 Security &; Detection System, Amerika Serikat. Dephub RI menjamin alat itu tidak akan memperlihatkan alat vital.

Di sejumlah negara, alat ini telah digunakan secara berkala pada calon penumpang yang mencurigakan. Saat ini alat tersebut diuji coba di sejumlah bandara di Kanada dan Perancis. Pemeriksaan akan difokuskan untuk para penumpang yang hendak ke Amerika Serikat (AS).

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

February 26th, 2010 pada 8:16 am

MUI Kudus Temukan Aliran Menyimpang dari Islam

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menemukan adanya aliran baru yang diduga menyimpang dari ajaran Islam, karena dalam pengucapan kalimat syahadat berbeda dari ajaran Islam.

Ketua MUI Kabupaten Kudus Muhammad Syafiq Naschan di Kudus, ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya telah mendapatkan laporan adanya aliran baru itu sekitar dua pekan terakhir. Untuk menangani hal tersebut, pihaknya melakukan rapat koordinasi dengan pihak kepolisian dan Kesbangpolinmas di kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Kudus, Senin (9/11).

Berdasarkan hasil kajian sementara, serta dari sejumlah laporan yang masuk, kata dia aliran yang bernama Sabda Kusuma itu telah mengubah kalimat syahadat. “Seharusnya bunyi syahadat Rasul adalah `asyhadu anna Muhammadan Rasulullah`, tetapi aliran ini mengubah menjadi `asyhadu anna Sabda Kusuma Rasulullah,” katanya.

Perubahan itu, kata Syafiq merupakan indikator bahwa aliran tersebut melenceng dari ajaran Islam. “Padahal syahadat merupakan kunci sekaligus dasar aqidah Islam yang tidak bisa diganggu gugat,” katanya seperti dilansir Antara.

Terkait ajaran yang lain, seperti salat dan lain sebagainya, dia mengatakan, masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Ia mengatakan, pihaknya akan segera memanggil pemimpin aliran itu yang diketahui bernama Sabda Kusuma yang tinggal di Kauman Menara RT 01/ RW I Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Aliran tersebut diduga telah lama berkembang, mengingat jumlah pengikutnya sekitar 60 orang. “Kami akan segera memanggil yang bersangkutan untuk memberi klarifikasi. Apabila memang terbukti melenceng, kami berharap yang bersangkutan dapat mencabut kembali ajarannya, serta kembali ke jalan yang benar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpolinmas Kudus Ali Rifa`i melalui Kasi Ideologi Nur Hadi mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan dari MUI sebelum mengambil langkah antisipasi. “Kita berharap fatwa dari MUI dan keputusan dari Kantor Departeman Agama menegaskan bahwa aliran tersebut terlarang,” katanya.

Untuk menghindari terjadinya amuk massa, atau hal-hal lain yang tidak diinginkan, menurut dia sejumlah personel diterjunkan untuk melakukan pengawasan. “Yang pasti, kami tidak ingin ada main hakim sendiri,” katanya.

Sumber: tvOne.co.id

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

November 10th, 2009 pada 8:16 am

MUI Blitar Selidiki Sekte Padange Ati

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Blitar menyelidiki sekelompok warga di Dusun Mbiluk, Ngaglik, Srengat, Kabupaten Blitar yang diduga sebagai penganut aliran (sekte) menyimpang.

Informasi yang dihimpun MUI, sekte yang mengatasnamakan Padange Ati (PA) ini diduga sudah berani menanggalkan syariat agama yang diakui pemerintah, khususnya Islam.

Seorang anggota “jamaah” yang sebelumnya Islam, berani mengabaikan shalat, bahkan menilai dogma shalat lima waktu sebagai tata cara pemeluk agama yang masih dangkal keilmuannya.

Menurut keterangan Sekretaris Umum MUI Kabupaten Blitar Achmad Su’udy, PA yang dilakukan secara rutin di rumah seorang warga setempat bernama Jono (48) memiliki benang merah dengan Aliran Masuk Surga (AMS) pimpinan Suliyani asal Desa Jajar, Talun, Kabupaten Blitar.

Bahkan, Achmad Su’udy terang-terangan sekte PA yang muncul sekitar tahun 2007/2008 sebagai pengembangan dari AMS. Sebab, selain mengecilkan arti syariat Islam seperti aliran AMS, sejumlah “Imam” sekte PA merupakan murid-murid Suliyani.

“Hasil penyelidikan sementara aliran yang beranggotakan sekitar 25 orang ini telah menyimpangi aqidah agama. Dan ajaran yang disampaikan sama persis dengan Aliran Masuk Surga pimpinan Pak Suliyani,” ujarnya, Minggu (8/11/2009).

Seperti halnya AMS, ritual yang dilakukan para pemeluk PA mirip dengan pengikut tarikat atau tasawuf dalam agama Islam. Mereka duduk “bersemedi” dengan menyebut nama Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Misalnya seorang muslim menyebut Allah. Sedangkan nasrani menyebut Tuhan Yesus atau yang Hindu atau Budha tetapa memakai istilah Sang Hyang Widi.

PA yang berhaluan sama dengan AMS ini diduga juga memiliki pandangan seragam soal rukun Haji dalam agama Islam, yang menurut mereka tidak perlu ditunaikan di tanah suci Makkah. Haji di Makkah dinilai sebagai kegiatan pemborosan.

“Kita juga masih selidiki apakah PA ini juga menarik pungutan rata-rata Rp1-4 juta kepada setiap pengikutnya seperti halnya AMS atau tidak,” terang Su’udy menambahkan saat ini masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pantauan. (Solichan Arif/Koran SI/teb)

Sumber: okezone.com

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

November 9th, 2009 pada 1:22 pm

MUI Lamongan Melarang Warga Meyakini Adanya Keajaiban dari Batu yang Dianggap Ajaib

belum ada komentar

Sejumlah warga di Dusun Kowak, Desa Bedingan, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dihebohkan dengan munculnya batu ajaib yang menyerupai seekor kerbau yang sedang tidur.

“Konon batu ini selalu ditemukan warga saat musim kemarau, dan bentuknya pun selalu berubah-ubah, misalkan pada musim kemarau tahun 2008 batu itu muncul dengan bentuk menyerupai manusia,” kata Kasmuji (45) seorang warga desa setempat, Senin.

Keberadaan batu yang dianggap ajaib oleh warga Dusun Kowak mendapat tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lamongan.

Ketua MUI Lamongan Abdul Azis Khoiri menganggap perilaku warga yang meyakini adanya keajaiban yang datang dari batu itu merusak aqidah Islam.

“Jangan merusak aqidah Islam dengan menyebarluaskan kabar menyesatkan tentang adanya batu ajaib, itu nyeleneh (tidak wajar) apalagi sampai mendewa-dewakan sebuah batu,” katanya.

Kendati pihaknya belum menerima laporan langsung dari masyarakat akan keberadaan batu itu, namun MUI bakal bertindak untuk meluruskan persepsi salah di masyarakat.

“Kami akan memberikan arahan kepada warga sekitar untuk tidak bertindak menyalahi aqidah Islam,” katanya.

Menurut Kasmuji, batu yang dianggap ajaib oleh warga sebenarnya muncul beberapa hari yang lalu dimulai dengan bentuk seperti batu biasa, namun setelah beberapa hari kemudian batu itu terlihat menyerupai kerbau yang sedang tidur.

Keanehan batu itu mengundang rasa penasaran warga desa, banyak di antara mereka beramai-ramai ingin melihat batu tersebut. Bahkan tidak sedikit diantara mereka membersihkan batu itu dan berharap bisa mendatangkan keajaiban.

Masyarakat setempat mempercayai adanya batu ajaib itu sebagai pertanda musim kemarau panjang, namun di musim tanam berikutnya mereka meyakini hasil panen petani akan melimpah. (*)

Referensi: antara.co.id

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

November 3rd, 2009 pada 5:54 am

Ada Upaya Penyebaran Agama Tertentu di Padang

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat temukan upaya penyebaran agama tertentu pada masyarakat korban bencana di Koto Tinggi, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman.

Menurut Ketua MUI Sumbar Gusrizal Gazahar, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polresta Pariaman untuk menangani kasus penyebaran agama berkedok bantuan.

“Kami dan masyarakat tangkap langsung pelakunya dan barang bukti berupa injil telah disita di Polres Pariaman,” kata Gusrizal Gazahar pada VIVAnews, Senin, 2 November 2009.

MUI menemukan upaya penyebaran agama tertentu pada orang yang telah beragama ini setelah melakukan penulusuran ke sejumlah daerah yang terkena dampak bencana. Gusrizal mengatakan, penyebaran Injil ini dilakukan warga negara Amerika dibantu Lembaga Alkitab dari Jakarta.

“Warga Indonesia dari Lembaga Alkitab ini berinisial Toni dan saat ini Polresta Pariaman menyita sekitar 20 Injil yang dibagi-bagikan mereka,” kata Gusrizal. MUI Sumbar mengaku kecewa dengan kedok penyebaran agama ini berkedok bantuan.

Sejauh ini, ujar Gusrizal, pihaknya telah menyebarkan sejumlah ulama di berbagai titik bencana untuk mengantisipasi sejumlah kasus yang menghebohkan masyarakat Sumbar ini. MUI saat ini berkonsentrasi untuk menyebarkan ulama-ulama memantau kasus serupa di Kabupaten Agam.

Sekitar 20 tim disebarkan MUI Sumbar untuk memeriksa kasus-kasus penyebaran agama berkedok bantuan. Kekhawatiran MUI Sumbar muncul saat bantuan masyarakat Israel berdatangan ke Kabupaten Padang Pariaman.

“Jika memang membantu dengan alasan kemanusiaan tidak ada masalah, tapi jangan digunakan untuk kepentingan lain,” kata Ketua MUI Sumbar ini.

Laporan: Eri Naldi | Padang

Sumber: VIVANews.com

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

November 2nd, 2009 pada 10:23 am

Setelah Tulungagung, Baha’i Menyebar ke Blitar

belum ada komentar

Pengikut ajaran Baha’i ternyata tidak hanya berada di wilayah Kabupaten Tulungagung. Bak cendawan di musim penghujan, pemeluk aliran yang beribadah salat dengan kiblat di Gunung Caramel Israel itu juga muncul di Blitar, Jawa Timur.

Sedikitnya ada 7 orang dari 2 kepala keluarga (KK) yang saat ini bermukim di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Blitar yang menganut ajaran ini. Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, salah satu dari kepala keluarga itu bernama Sahari alias Rebo.

Kepada setiap orang yang ditemuinya, Rebo secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya seorang Baha’i. Rebo juga tak sungkan menjelaskan, bagaimana keyakinanya memiliki kemiripan dengan ajaran agama Islam dan Kristen.

Dia contohkan, untuk urusan hidup di dunia, kaum Baha’i diwajibkan untuk berikhtiar. Baha’i juga meyakini bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Sementara untuk urusan berhubungan dengan sesama, mereka melaksanakan pola ajaran cinta kasih.

“Namun untuk penyebutan nama Tuhan, Baha’i membebaskan umatnya. Misalnya untuk yang dulunya Islam menyebut dengan Allah. Sedangkan nasrani Tuhan Allah dan untuk Hindu serta Budha Sang Hyang Widi,” tutur warga Srengat yang mengaku kerap berkomunikasi inten dengan Rebo, Rabu (28/10/2009).

Seperti halnya Slamet Riyadi, pembawa ajaran Baha’i di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Rebo juga dikenal militan melakukan penyebaran (syiar). Terlebih pekerjaanya sebagai pedagang barang rumah tangga dan mebel yang dikreditkan, membuat dirinya mudah bersinggungan dengan orang lain.

“Orangnya cerdas dan pandai berdiskusi. Setiap pembicaraan selalu menyisipi materi soal Baha’i,” papar warga yang tidak mau disebutkan namanya ini. Kepada orang lain, Rebo mengaku dulunya seorang muslim.

Namun karena dia membutuhkan Surat Izin Mengemudi (SIM), dan tidak mungkin mengisi kolom agama diisi dengan Baha’i, dia memilih mencantumkan agama Nasrani. “Dan menurut dia, seluruh keluarga dan kerabatnya yang Baha’i, di desanya juga menuliskan Nasrani sebagai agama mereka,” pungkasnya.

Sekretaris MUI Kabupaten Blitar Ahmad Su’udi ketika dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Ahmad mengakui bahwa di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, memang ada warga yang menjadi pengikut Baha’i. Saat ini MUI bersama Kesbanglinmas telah melakukan pemantauan, apalagi dengan munculnya pemberitaan Baha’i di Tulungagung yang secara geografis tidak jauh dari Srengat.

“Saat ini kita sedang melakukan pendekatan kepada mereka, mengenai ajaran yang dianut,” ujar Su’udi kepada wartawan. Untuk meminimalisir terjadinya penyebaran ajaran tersebut, MUI setempat akan menggandeng Depag dan Kantor Dispenduk Catatan Sipil untuk melakukan pendekatan persuasif dan pengawasan kepada mereka.

“Kami juga akan meminta kepada camat, kades dan perangkat desa untuk menolak mereka yang meminta mencantumkan Baha’i sebagai agama dalam KTP-nya,” terang Su’udi.

Mengenai keberadaannya Baha’i ini, Su’udi mengaku belum tahu pasti, apakah ini berasal dari Tulungagung atau daerah lain. “Kita masih menelusuri. Sebelumnya yang kita waspadai di daerah Blitar bagian selatan. Tidak tahunya di Blitar sebelah utara yang justru kemasukan paham seperti ini,” katanya. (Solichan Arif/Koran SI/ded)

Sumber: okezone.com

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

October 30th, 2009 pada 10:26 pm

MUI Jatim Haramkan Paham Santriloka

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengharamkan paham Kalam Santriloka yang berkembang di Kota Mojokerto karena dianggap menyimpang dari 10 pedoman pokok.

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Jatim, Rachman Aziz, di Surabaya, Jumat, mengatakan, saat ini pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan dari MUI Kota Mojokerto.

“Dari informasi yang kami dapatkan, ajaran tersebut menyimpang dari 10 pedoman pokok yang disepakati MUI seluruh Indonesia,” katanya.

Dalam 10 pedoman pokok yang menjadi acuan MUI itu menyebutkan, ajaran Islam dinyatakan sesat, bila tidak percaya pada salah satu Rukun Iman dan Rukun Islam, tidak percaya pada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi terahir, mempercayai adanya kitab terakhir selain al-Qur’an, dan menghina Nabi.

Paham Santriloka jelas sesat karena tidak mempercayai Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi yang terakhir,” katanya.

Selain itu, Santriloka juga meyakini adanya Nabi terakhir setelah Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yakni Syaikh Siti Jenar dan Syaikh Maulana Malik Ibrahim.

Selain itu, syarat masuk Islam tidak harus dengan bersyahadat, namun cukup dengan menggunakan bunga tertentu.

Dalam aliran itu juga tidak mewajibkan jama’ahnya untuk berpuasa pada bulan kesembilan pada penanggalan tahun Hijriyah, namun dapat diganti pada tanggal 1-9 bulan pertama Hijriyah.

Paham itu juga tidak mewajibkan shalat lima waktu karena cukup diganti dengan kontak batin.

Perguruan Ilmu Kalam Santriloka memiliki sekitar 700 pengikut, dan aktif menggelar pengajian setiap malam Jumat Legi. Kegiatan itu dilakukan berpindah-pindah.

Oleh sebab itu, MUI Jatim meminta kepada pejabat daerah setempat untuk menindak aliran tersebut, sedangkan para tokohnya diminta bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya.

“Aliran itu dapat dituntut dengan dasar hukum penistaan agama, sehingga dapat dipenjarakan apabila tidak mau bertobat,” kata Rachman seraya mengimbau masyarakat untuk bisa menahan diri dan tidak main hakim sendiri.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, menyatakan, aliran yang dikembangkan oleh Ahmad Nafan itu di luar syariat Islam sehingga sangat menyesatkan.

Ini sungguh menyesatkan. Tetapi kami mengimbau supaya pengikutnya disadarkan dengan cara-cara yang persuasif. Tidak perlu dengan kekerasan,” katanya.

Kegiatan-kegiatan ritual atau keagamaan dengan pemahaman yang dangkal dan jauh dari ajaran Islam, lanjut dia, sebenarnya sangat merugikan umat.(*)

Sumber: antara.co.id

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

October 30th, 2009 pada 9:52 pm

MUI Sumbar: Waspadai Bantuan dari Israel

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) menyayangkan masuknya bantuan korban gempa dari Israel. MUI khawatir bantuan ini akan mempengaruhi aqidah masyarakat.

“Kita tahu prinsip Yahudi, tidak ada yang gratis dari mereka,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat Gusrizal Gazahar, Senin (26/10) seperti dilansir VIVAnews.

Ia mengimbau, agar masyarakat korban bencana tidak tergantung pada materi semata. Kekhawatiran Ketua MUI Sumbar ini muncul karena bantuan ini bisa mempengaruhi keimanan masyarakat.himpunan

Seperti diketahui, masyarakat Israel mengirimkan bantuan kemanusiaan senilai US$500 ribu bagi korban gempa Sumatera Barat. Bantuan dari masyarakat Israel ini disalurkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke sejumlah lokasi terparah akibat gempa.

Bantuan dari Israel yang disalurkan HMI berupa obat-obatan bagi sejumlah rumah sakit di Kabuapten Padang Pariaman serta Kabupaten Agam. Menurut Ketua PB HMI Pusat, Arif Musthofa, bantuan ini murni sebagai bentuk aksi kemanusiaan.

“Karena ini murni sebagai bentuk aksi kemanusiaan tanpa embel-embel lain, kita terima dan didistribusikan,” kata Arif Mustofa, Senin (26/10).

Sumber: tvone.co.id

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

October 30th, 2009 pada 9:14 am

MUI: Salat Sekali Sehari, Baha’i Sesat

belum ada komentar

Majelis Ulama Indonesia menegaskan jika ada satu kelompok yang mengaku Islam kemudian meyakini bahwa shalat itu tidak perlu lima kali dalam sehari, maka aliran itu sesat dan harus dibubarkan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Fatwa MUI Ma’ruf Amin saat dikonfirmasi okezone, Senin (26/10/2009) terkait munculnya aliran Baha’i di Tulungagung, Jawa Timur.

“Sikap MUI jelas jika dia mengaku Islam kemudian melakukan praktik ibadah keluar dari yang ditentukan Islam, maka itu aliran sesat,” katanya.

Dia menjelaskan MUI telah menetapkan 10 kriteria yang menyebut satu kelompok dianggap sesat, di antaranya menyimpang dalam shalat lima waktu, tidak mengakui Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi, dan penyimpangan ibadah puasa.

Sementara aliran Baha’i meyakini bahwa shalat cukup sekali dalam sehari, itu pun tidak menghadap Kakbah, namun sebuah gunung di Israel bernama Caramel. Dalam praktik puasa Ramadhan mereka hanya puasa 17 kali dalam sebulan. Selain itu, mereka juga memiliki surat nikah dan KTP sendiri.

Aliran Baha’i sudah berkembang cukup lama, khususnya di daerah Tulungagung. Kini aliran yang meyakini bahwa Muhammad Husain Ali sebagai nabi mereka itu telah memiliki sekira 150 pengikut.(ton)

Sumber: okezone.com

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

October 26th, 2009 pada 11:29 am

MUI: Kapitalisme Dalam Musibah Undang Bencana Lain

satu komentar

Medan (ANTARA News) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut mengimbau agar pihak mana pun tidak menerapkan asas kapitalisme dalam musibah gempa di Sumbar karena dapat mengundang datangnya bencana yang lain.

“Itu sama saja dengan menyakiti dan menzolimi saudara kita yang sedang dalam kesusahan,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut, Dr H. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA di Medan, Sabtu.

Pernyataan itu disampaikan Ramlan Yusuf Rangkuti ketika dimintai fatwanya tentang adanya perusahaan, termasuk maskapai yang mengambil keuntungan dari musibah gempa yang melanda Sumbar dengan menjual tiket pesawat kepada keluarga korban melebihi tarif batas atas.

Memang, kata Ramlan Yusuf, dalam teori ekonomi, apalagi kapitalisme selalu mengajatrkan untuk mencari keuntungan dalam setiap kesempatan.

Termasuk teori yang menyebutkan semakin tingginya permintaan terhadap suatu barang makan semakin tinggi pula harga yang ditentukan.

Namun, kata dia, sebagai bangsa yang beragama, sudah sewajarnya warga negara Indonesia manusia saling membantu dalam kesulitan.

Paling tidak, tambahnya, tidak melakukan perbuatan yang dapat menambah kesusaha dan kesulitan terhadap orang-orang yang sedang mengalami kesusahan itu.

“Jika itu dilakukan, haram hukumnya,” kata Dosen di IAIN Sumut, USU dan UISU tersebut.

Ia mengimbau, perusahaan yang menerapkan kebijakan untuk mengambil keuntungan dari peristiwa gempa di Sumbar itu menghentikan perbuatannya.

Dalam pandangan agama, perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai tindakan yang menzolimi dan menyakiti manusia yang sedang beredih dan dalam kesusahan.

“Perlu disadari, hal itu dapat mengundang bencana lain bagi bangsa Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter mengguncang Padang, Sumbar, Rabu (30/9) pukul 17:16 WIB yang terjadi pada episentrum 0,84 lintang selatan (LS) dan 99,65 bujur timur (BT), dengan kedalaman 71 km.

Gempa tersebut berada di dasar laut 57 km barat Daya Pariaman, Provinsi Sumbar.

Pada pukul 17:38 WIB terjadi lagi gempa susulan dengan kekuatan 6,2 SR pada episentrum 0,72 LS dan 99,94 BT dan pusat gempa berada di 22 km barat daya Pariaman Provinsi Sumbar dengan kedalaman 110 km.

Selain menghancurkan ratusan bangunan milik pemerintah, warga dan pusat perbelanjaan, gempa itu juga menewaskan ratusan warga Sumbar.(*)

Sumber: antara.co.id

Share and Enjoy:
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • email
  • LinkedIn
  • PDF
  • Ping.fm
  • Print
  • Reddit
  • RSS
  • Slashdot
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter

Ditulis oleh Muhammad 'Abdullah

October 3rd, 2009 pada 5:04 pm